Kamis, 14 November 2024

"Mengukir Amal Abadi: Pemberdayaan Wakaf sebagai Bekal untuk Kehidupan di Alam Baqa’"


Margomulyo, 14 November 2024 – Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan keteguhan spiritual anggotanya, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Margomulyo mengadakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang berlangsung pada Kamis Kliwon, 14 November 2024, di Aula MWCNU Margomulyo. Acara yang dimulai pukul 09.30 hingga 11.45 ini diikuti oleh jajaran PAC Muslimat NU, pengurus ranting, serta seluruh anggota jamaah dari enam ranting se-Ancab Margomulyo.

Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, Ibu Maslahah, menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh pengurus dan anggota yang telah mendukung terselenggaranya acara ini secara konsisten. "Matursuwun atas partisipasi semua pengurus dan anggota atas terselenggaranya acara ini dengan istiqomah," ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Puncak acara diisi oleh kajian rutin Kitab Arruh yang dibawakan oleh Kiyai Badrun, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) KUA Margomulyo. Pada kesempatan kali ini, beliau membahas Bab Kelima dari kitab tersebut, yang menyoroti hal-hal yang membedakan satu ruh dengan ruh yang lain di akhirat kelak. Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menegaskan bahwa amalan baik yang dilakukan setiap individu selama hidupnya di dunia akan menjadi pembeda utama di akhirat. "Kelak, yang membedakan antara masing-masing ruh adalah ikhtiar amal kebaikan yang dilakukan ketika masih di alam dunia," jelas beliau, menekankan pentingnya ketulusan dalam beramal.

Selain membahas perbedaan ruh di akhirat yang ditentukan oleh amal perbuatan, Kiyai Badrun juga menyinggung peran strategis pemberdayaan wakaf sebagai investasi amaliah yang berdampak jangka panjang, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau menjelaskan bahwa wakaf bukan sekadar harta yang diperuntukkan bagi kemaslahatan hidup di dunia, melainkan juga sebagai bekal pahala abadi yang terus mengalir untuk kehidupan di alam baqa’.

"Wakaf adalah salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya tidak terputus, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Dalam Islam, wakaf menempati posisi penting karena kemanfaatannya yang berkesinambungan," ungkap Kiyai Badrun, seraya mengajak para jamaah untuk tidak ragu dalam berwakaf jika memiliki kemampuan. Beliau menekankan bahwa wakaf bisa berwujud apa saja yang mendukung kebaikan, seperti tanah, bangunan, atau bahkan alat-alat yang berguna bagi masyarakat luas.

Kiyai Badrun juga menyoroti bahwa pemberdayaan wakaf di level komunitas NU dapat mencakup berbagai sektor, seperti pendidikan, layanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, jika wakaf dikelola dengan baik, ia tidak hanya akan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi amalan yang mengantarkan pemiliknya pada kedudukan mulia di akhirat. Dengan demikian, wakaf memiliki dimensi spiritual dan sosial, membantu memenuhi kebutuhan umat sekaligus membekali amal kebajikan bagi kehidupan kekal.

Dalam penutupan tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah PAC Muslimat NU Margomulyo untuk mempertimbangkan berwakaf dengan niat ikhlas dan penuh kepercayaan bahwa amalan tersebut akan memberi manfaat jangka panjang. "Semoga melalui pemberdayaan wakaf, kita dapat mewujudkan amal yang terus berkembang, mengalirkan pahala tak terputus untuk bekal kita di akhirat," tutup Kiyai Badrun penuh harap, membangkitkan inspirasi bagi para jamaah untuk menjadikan wakaf sebagai bagian dari perjuangan dan pengabdian dalam hidup mereka.

Kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini mendapat sambutan hangat dari para peserta yang hadir. Pembahasan mendalam mengenai kitab Arruh ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi jamaah untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan amalan kebaikan, dan menjaga keikhlasan dalam setiap langkah mereka. Dengan adanya kegiatan seperti ini, PAC Muslimat NU Margomulyo berkomitmen untuk terus menjadi wadah bagi anggotanya dalam memperdalam pengetahuan agama dan membentuk karakter yang lebih kuat dalam berkhidmat kepada Allah dan umat.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar kegiatan ini membawa manfaat yang besar bagi seluruh jamaah, dan menjadi bekal berharga dalam membangun pribadi yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.

Senin, 11 November 2024

"Menghidupkan Semangat Keikhlasan ala Surat Al-Ikhlas: Inspirasi dari Majelis Taklim Al-Amin Kaligede"

Margomulyo, Ahad (10/11/2024) – Masjid Al-Amin di Dusun Kaligede, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, dipadati para jamaah pada Ahad, 10 November 2024. Acara kajian rutin Majelis Taklim Al-Amin kali ini berlangsung khidmat sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Acara tersebut merupakan kegiatan rutin setiap minggu pertama, yang kali ini digabung dengan agenda Naharul Ijtima’ NU Ranting Margomulyo.

Hadir dalam acara tersebut segenap jamaah Majelis Taklim Al-Amin, jajaran pengurus Ranting NU Margomulyo, serta perwakilan dari badan otonom NU seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, dan Banser. Turut hadir juga perangkat Dusun Kaligede, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat yang bersama-sama memeriahkan kegiatan penuh manfaat ini.

Acara dimulai dengan rangkaian doa dan shalawat bersama yang dipimpin oleh pengurus Ranting NU Margomulyo, disusul dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Suasana khusyuk mewarnai setiap lantunan doa yang dipanjatkan para jamaah sebagai wujud cinta mereka kepada ilmu dan iman.

Sebagai puncak acara, tausiyah yang sangat dinantikan disampaikan oleh Ketua MWCNU Margomulyo, Kiai Badrun. Dalam ceramahnya, beliau membahas secara mendalam tentang makna dari Surat Al-Ikhlas, salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an yang memiliki makna yang sangat dalam.

Kiai Badrun menjelaskan bahwa Surat Al-Ikhlas bukan hanya sekadar surat yang sering dibaca, namun memiliki filosofi mendalam tentang keesaan Allah. Menurutnya, memahami dan menghayati Surat Al-Ikhlas dapat menuntun umat Islam untuk lebih menguatkan tauhid dan menanamkan keyakinan penuh hanya kepada Allah SWT. “Surat Al-Ikhlas adalah pernyataan cinta kita kepada Allah yang Maha Esa. Ini adalah surat yang mengajarkan kepada kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan untuk senantiasa menempatkan Allah sebagai tujuan utama dalam hidup,” tutur Kiai Badrun dengan penuh penghayatan.

Lebih lanjut, beliau mengajak seluruh jamaah untuk mempraktikkan nilai-nilai keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keikhlasan dalam ibadah dan dalam berbuat baik kepada sesama adalah wujud nyata dari pemahaman terhadap makna Surat Al-Ikhlas. "Keikhlasan bukan hanya tentang tidak mengharapkan balasan dari manusia, tapi juga menjaga ketulusan niat hanya untuk Allah SWT. Mari kita terus berupaya menjadi pribadi yang ikhlas, yang selalu mengarahkan hati kepada Allah dalam setiap amal kita," imbuhnya.

Di penghujung tausiyah, Kiai Badrun juga menyampaikan harapannya agar Majelis Taklim Al-Amin dan seluruh jamaah dapat terus istiqamah dalam menuntut ilmu dan memperkuat iman. Beliau menegaskan pentingnya konsistensi dalam menghadiri majelis ilmu sebagai sarana meningkatkan pemahaman agama dan mempererat silaturahmi antar umat Islam, khususnya di lingkungan Margomulyo.

Dalam tausiyahnya, Kiai Badrun juga menekankan bahwa makna keikhlasan yang terkandung dalam Surat Al-Ikhlas memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Beliau mengaitkan ajaran tentang keikhlasan ini dengan semangat juang para pahlawan yang berkorban untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Menurut Kiai Badrun, para pejuang terdahulu memiliki keikhlasan yang tulus dalam mengabdi dan berkorban demi kemerdekaan tanah air. Mereka tidak mengharapkan balasan materi atau pujian, tetapi semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

"Keikhlasan yang diajarkan dalam Surat Al-Ikhlas ini adalah roh perjuangan para pahlawan kita. Mereka berjuang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan atau penghormatan. Mereka hanya ingin negeri ini merdeka, dan mereka lakukan semua itu dengan niat yang ikhlas kepada Allah. Inilah pelajaran penting yang bisa kita ambil dari para pejuang kita," ujar Kiai Badrun, menggugah semangat para jamaah.

Beliau mengingatkan bahwa sikap keikhlasan ini adalah sesuatu yang harus diteladani oleh setiap generasi, terutama dalam berkontribusi kepada masyarakat dan berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara. Tidak peduli sekecil apa pun kontribusi yang dilakukan, selama dilakukan dengan ikhlas, maka itu akan membawa manfaat besar bagi umat. Keikhlasan, kata Kiai Badrun, adalah fondasi utama yang menguatkan setiap langkah dan tindakan, terlebih dalam menjalani amanah dan tanggung jawab di masyarakat.

"Mari kita jadikan keikhlasan ini sebagai inspirasi. Tidak hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam setiap upaya kita membangun umat, melindungi agama, dan menjaga tanah air kita. Seperti para pejuang dulu yang ikhlas berkorban untuk negeri ini, kita pun harus ikhlas dalam mengabdi, baik kepada Allah, masyarakat, maupun bangsa," tambah beliau.

Dengan mengaitkan makna Surat Al-Ikhlas dan keikhlasan para pejuang kemerdekaan, Kiai Badrun berharap bahwa semangat ini dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan sehari-hari warga Dusun Kaligede dan sekitarnya. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk terus menghidupkan nilai-nilai keikhlasan, bukan hanya di dalam masjid, tetapi juga dalam setiap tindakan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kegiatan bermasyarakat lainnya.

Pada akhir ceramahnya, Kiai Badrun memanjatkan doa agar seluruh jamaah diberi kekuatan untuk senantiasa istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam dengan ikhlas dan diberi kemudahan dalam mengarungi kehidupan dengan penuh ketaatan. Tausiyah ini kemudian ditutup dengan lantunan doa dan dzikir bersama, yang diikuti oleh seluruh jamaah dengan penuh kekhusyukan dan harapan, mengharapkan ridha dan perlindungan dari Allah SWT.

Kegiatan kajian rutin yang berisi pesan keikhlasan ini memberikan energi dan inspirasi baru bagi para jamaah. Meski acara telah berakhir, pesan mendalam tentang makna keikhlasan tetap terpatri di hati mereka, menjadi bekal dalam menjalani hidup dengan penuh ketulusan dan pengabdian kepada Allah serta berkontribusi kepada masyarakat.

Kegiatan kajian rutin ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam. Para jamaah tampak antusias dan bersemangat mengikuti acara hingga akhir, meski waktu telah beranjak sore.

Acara yang berlangsung setiap awal minggu pertama ini menjadi momen yang dinantikan oleh jamaah Majelis Taklim Al-Amin dan warga sekitar. Tidak hanya sebagai ajang menambah ilmu, tetapi juga sebagai wadah mempererat ukhuwah Islamiyah dan mengokohkan semangat kebersamaan di antara warga Dusun Kaligede dan sekitarnya.

Jumat, 08 November 2024

"Memaknai Sholat: Refleksi Kehidupan dalam Kajian Rutin Masjid Baiturrahim"



Margomulyo - Jumat, 08 November 2024, Masjid Baiturrahim kembali menggelar kegiatan kajian rutin yang berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.45. Kegiatan ini diikuti oleh segenap jama'ah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat, menciptakan suasana yang penuh khidmat dan kebersamaan.

Acara diawali dengan tahlil dan manakib yang dipimpin oleh Kiyai Suwardi, salah satu tokoh agama terkemuka di daerah tersebut. Suara lantunan doa dan dzikir yang dipimpin oleh Kiyai Suwardi menambah kekhusyukan acara, mengajak seluruh jama'ah untuk merenungi kebesaran Allah SWT.

Setelah sesi tahlil dan manakib, acara dilanjutkan dengan kajian rutin yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam kajian kali ini, Kiyai Badrun mengangkat tema "Keutamaan Manusia di Hadapan Allah adalah dengan Menjalankan Sholat Secara Lahir Batin." Beliau menekankan pentingnya sholat tidak hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan jiwa.

Kiyai Badrun, yang duduk di samping Kiyai Suwardi, menyampaikan materi dengan penuh semangat dan keikhlasan. Beliau mengajak jama'ah untuk lebih memahami dan menghayati makna sholat dalam kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan yang disampaikan mampu menggugah hati para jama'ah, mengingatkan mereka akan pentingnya menjalankan sholat dengan khusyuk dan ikhlas.

Acara kajian rutin ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan rahmat dari Allah SWT untuk seluruh jama'ah dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antar jama'ah, tetapi juga memperdalam pemahaman agama dan meningkatkan kualitas ibadah setiap individu.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan Masjid Baiturrahim dapat terus menjadi pusat kegiatan keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat, serta menjadi tempat untuk memperkuat iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Relevansi dan Manfaat Acara Kajian Rutin.

Kegiatan kajian rutin di Masjid Baiturrahim tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi jama'ah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat, tetapi juga memiliki dampak yang sangat positif bagi peningkatan kualitas spiritual dan moral masyarakat. Berikut beberapa relevansi dan manfaat dari kegiatan ini:

1. Peningkatan Pemahaman Agama:

   Kajian rutin seperti ini menjadi media yang efektif untuk meningkatkan pemahaman agama Islam. Dengan materi yang disampaikan oleh para ulama dan kiyai yang berkompeten, jama'ah dapat memperoleh ilmu yang lebih mendalam tentang ajaran Islam, termasuk pentingnya menjalankan sholat dengan khusyuk dan ikhlas.

2. Pembinaan Akhlak:

   Acara kajian rutin yang mengangkat tema "Keutamaan manusia di hadapan Allah adalah dengan menjalankan sholat secara lahir batin" ini menjadi momentum bagi jama'ah untuk introspeksi diri dan memperbaiki akhlak. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Kiyai Badrun mengajak jama'ah untuk lebih serius dalam menjalankan ibadah sholat sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT.

3. Penguatan Ukhuwah Islamiyah:

   Kegiatan seperti ini juga memperkuat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim. Kehadiran tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat menunjukkan kebersamaan dan kepedulian mereka terhadap peningkatan kualitas kehidupan beragama di lingkungan tersebut. 

4. Penerapan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Sehari-hari:

   Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya sholat, jama'ah diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sholat yang dilakukan dengan benar akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang, menjadikannya lebih sabar, ikhlas, dan taat dalam menjalani kehidupan.

Harapan dan Rencana Kedepan

Diharapkan kegiatan kajian rutin ini dapat terus berlangsung secara konsisten di Masjid Baiturrahim. Dengan materi yang selalu relevan dan disampaikan oleh para ulama yang berkompeten, jama'ah akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pemahaman agama mereka.

Kiyai Badrun menyampaikan harapannya agar kajian ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi spiritual bagi setiap individu yang hadir. Beliau juga mengajak seluruh jama'ah untuk turut serta dalam menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan menjadi teladan dalam masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi contoh bagi masjid-masjid lain untuk mengadakan acara serupa, yang tidak hanya memperkuat iman dan taqwa, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antar umat Islam.

Penutup

Kajian rutin di Masjid Baiturrahim merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam meningkatkan kualitas spiritual dan moral masyarakat. Dengan mengangkat tema "Keutamaan manusia di hadapan Allah adalah dengan menjalankan sholat secara lahir batin", kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya sholat sebagai ibadah utama dalam Islam. Semoga kegiatan ini terus memberikan manfaat yang besar bagi seluruh jama'ah dan masyarakat sekitar.

Demikian kegiatan kajian rutin di Masjid Baiturrahim. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Senin, 04 November 2024

Perjalanan Rohani, Menuju Makna Hidup : Antara ban Bocor dan menuju Submit

 

Hari ini, Senin 04 November 2024, langkahku mengarah ke selatan, menuju Kantor Urusan Agama Kecamatan Margomulyo. Sebuah perjalanan yang kuharapkan akan mengantar pada sebuah babak baru dalam hidup. Namun, takdir punya kejutan tersendiri.

Di tengah perjalanan, ketika melintas di kawasan SDN Piji Sumberjo, roda nasib seakan ingin menguji kesabaran. Ban kendaraanku mendadak kempes, perlahan menghembuskan napas terakhir. Seketika, rasa kecewa menyelimuti hati. Namun, di saat terpuruk, sebuah keajaiban hadir.

Dengan tiba-tiba, Pak Sakiman, seorang kawan lama yang tak pernah kuduga akan kutemui di hari itu, muncul bagai oase di tengah gurun. Dengan tulus, ia menawarkan bantuannya. Tanpa ragu, aku menerima uluran tangannya. Bersama-sama, kami menuju tempat tambal ban terdekat.

Sepanjang perjalanan, Pak Sakiman menemani dengan canda tawa. Obrolan ringan kami seolah mengikis habis rasa kecewa yang sempat menghinggapi. Sesampainya di tempat tambal ban, aku pun diboncengnya kembali menuju Kantor Urusan Agama.

Sesampainya di sana, suasana hangat menyelimuti. Para sahabat telah berkumpul, wajah-wajah ceria menyambut kedatanganku. Hari ini, kami bersama-sama akan mengakhiri perjalanan panjang pendaftaran Calon Aparatur Sipil Negara dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja di lingkungan Kementerian Agama.

Kisah perjalanan hari ini mengajarkan banyak hal. Bahwa di balik setiap rintangan, selalu ada hikmah tersembunyi. Bahwa persahabatan sejati adalah anugerah terindah yang tak ternilai harganya. Dan yang terpenting, bahwa setiap tujuan pasti akan tercapai, asalkan kita terus berusaha dan tidak pernah menyerah.

Hari ini, akhirnya aku sampai pada titik kulminasi dari sebuah perjuangan panjang. Submit pendaftaran CASN P3K Kemenag bukanlah sekadar penanda akhir dari sebuah proses, melainkan sebuah penanda dari sebuah babak baru dalam hidupku.

Ingatan akan hari-hari sebelumnya masih begitu jelas. Malam-malam panjang kuhabiskan untuk bergelut dengan data, berjibaku dengan sistem yang kerap kali tak bersahabat. Doa-doa tak henti kuucapkan, memohon agar segala upaya yang telah kulakukan membuahkan hasil. Air mata pun tak jarang menetes, saat kegagalan demi kegagalan datang silih berganti.

Namun, di balik setiap kegagalan, selalu ada harapan yang membara. Aku percaya, bahwa setiap perjuangan pasti akan membuahkan hasil yang manis. Dan hari ini, keyakinan itu terbukti. Dengan hati yang penuh syukur, aku menyaksikan data-data yang telah kusiapkan dengan susah payah terunggah dengan sempurna.

Perjalanan menuju Kantor Urusan Agama tadi pagi bagaikan sebuah ritual terakhir sebelum mengantarkan diri pada sebuah babak baru. Setiap langkah yang kuayunkan terasa begitu berarti. Dan ketika akhirnya sampai di tujuan, dan disambut oleh teman-teman yang telah lama menanti, seketika rasa lelah dan segala kegelisahan yang sempat menghantui sirna seketika.

Kisah submit hari ini adalah sebuah pelajaran berharga bagiku. Bahwa kesuksesan bukanlah semata-mata tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang telah dilalui. Bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada hikmah yang dapat kita petik. Dan yang terpenting, bahwa dengan keyakinan dan kerja keras, segala sesuatu pasti bisa kita capai.

Saat jari-jariku menekan tombol submit, seketika terlintas kembali semua perjuangan yang telah ku lalui. Malam-malam tanpa tidur, lembaran-lembaran dokumen yang berantakan, dan rasa cemas yang tak jarang menghantuiku. Namun, semua itu kini terasa sepadan.

Aku belajar bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi segala rintangan. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah pembelajaran. Dan yang terpenting, aku belajar untuk selalu percaya pada diri sendiri.

Submit hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah babak baru. Aku sangat antusias untuk menghadapi tantangan-tantangan yang akan datang. Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan perlindungan dalam menjalankan tugas-tugas yang akan datang.


Sabtu, 02 November 2024

"Sedulur KUA Margomulyo: Misi Unggah File di Tengah Tawa dan generate Dokument"


Margomulyo - Sabtu, 2 November 2024, Aula KUA Kecamatan Margomulyo ramai dengan tawa dan cerita hangat. Ya, ini bukan sekedar berkumpul biasa. Kali ini, Pak Naib, Kepala KUA Margomulyo, staf-staf KUA seperti Pak Mad dan Mbak Nita, serta tim penyuluh agama Islam lengkap formasi delapan orang berkumpul untuk satu misi mulia: persiapan unggah dokumen SSACSN P3K.

Sejak pagi, mereka sudah siap sedia dengan laptop dan dokumen-dokumen yang berlembar-lembar. Namun, semangat di awal itu langsung diuji sehingga halaman web SSACSN tidak terbuka. “Wah, kayaknya halaman ini ngambek nggak mau dibuka,” canda Gus Jenggot sambil garuk-garuk kepala. Di sudut lain, Pak Rosyidi mencoba beberapa trik, mulai dari ganti browser, hapus cache, sampai restart laptop tiga kali, tapi tetap saja... “Gagal!”

Tampaknya belum cukup, ukuran file drama ikut menambah bumbu kekacauan. Ada yang filenya terlalu besar, ada yang terlalu kecil, sampai Mbak Nita berujar sambil tertawa, “Ini situs pilih-pilih ukuran kayak milih jodoh aja ya!” Semua orang tertawa. Memang kebersamaan ini lebih dari sekedar kerja bareng. Ini adalah seduluran yang sudah terjalin erat.

Tawa kembali pecah saat salah satu penyuluh, sambil mencoba mengunggah dokumen, nyeletuk, “Mungkin situsnya tidak siap mental buat terima unggahan kita.” Pak Naib tertawa sambil berkata, “Wah, berarti kita harus bersabar. Kalau gagal, kita ulang lagi, yang penting kompak!”

Di sesi akhir, mereka semua menyadari bahwa suka duka ini justru menjadi momen mempererat ikatan. Meskipun gagal mengunggah dokumen, acara kumpul-kumpul kali ini sukses membuat kenangan manis.

Dalam suasana kumpul-kumpul ini, semakin sakit justru semakin seru! Para keluarga besar KUA Margomulyo, yang biasanya tampil formal dan penuh wibawa, kali ini bergaya santai di lantai aula. Mereka ramai-ramai menyemut di depan laptop, semua bergaya seperti tim hacker profesional sedang menjalankan misi rahasia, padahal cuma lagi berjuang unggah dokumen SSACSN P3K.

Ada yang tengkurap, ada yang duduk sambil selonjoran, ada yang menyimak sambil sesekali garuk kepala. Saking semangatnya, semua fokus ke layar, sampai lupa kalau ada yang harus minum kopi atau rehat sebentar. Sesekali terdengar tawa pecah saat file yang diunggah malah “gagal” lagi. Salah satu staf nyeletuk, “Ini laptopnya capek kali ya, disuruh kerja terus dari tadi!” Tawa pun pecah lagi.

Pak Mad, yang paling terkenal telaten, dengan tenang mencoba berbagai cara agar file bisa terunggah. Tapi, sepertinya situs tersebut memang sedang ngambek. Mbak Listi dengan nada bercanda berkata, “Kayaknya situs ini hanya nurut sama Pak Naib deh, beliau kan bosnya!” Semua yang mendengarnya langsung tertawa.

Layar laptop, koneksi internet, dan file yang suka gagal, ternyata jadi bahan hiburan tersendiri. Semua menikmati setiap momen dengan penuh kekompakan. Kumpul kali ini benar-benar menjadi bukti bahwa kebersamaan dan tawa adalah cara terbaik untuk menghadapi tantangan—meski itu hanya soal unggah file.

Kamis, 31 Oktober 2024

"Kemuliaan Manusia Dalam Pandangan Rasulullah: Kajian Rutin MATA AIR Dusun Pluntu Inspirasi Jamaah untuk Istiqamah Beribadah"


Margomulyo – Rabu, 30 Oktober 2024, Majelis Taklim At-Thohir (MATA AIR) kembali menggelar kajian rutin yang diadakan di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo, pada Rabu (30/10/2024). Acara yang dimulai pukul 20.00 hingga 22.30 ini diikuti oleh jamaah setempat dengan khidmat dan penuh antusiasme.

Acara diawali dengan mujahadah dan lantunan sholawat Nabi yang dipimpin oleh Abdul Ghofur, Kasatkoryon Banser Margomulyo. Dengan semangat dan kekhusyukan, jamaah bersama sama melantunkan sholawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dan permohonan keselamatan bagi umat.

Kajian inti disampaikan oleh Ketua MUI dan Ketua FKPAI KUA Kecamatan Margomulyo, Kiai Badrun, yang menyampaikan tausiyah mengenai kemuliaan manusia dalam pandangan Rasulullah SAW dibandingkan dengan malaikat. Dalam pembahasannya, Kiai Badrun mengungkapkan bahwa kemuliaan manusia bahkan membuat Malaikat Jibril merasa kagum hingga memiliki keinginan untuk menjadi manusia.

“Saking mulianya manusia, Malaikat Jibril sampai kepingin jadi manusia,” ujar Kiai Badrun. Lebih lanjut, beliau memaparkan beberapa amalan yang membuat manusia memiliki keistimewaan di hadapan Allah SWT, yaitu dengan melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah, menjenguk orang sakit, dan menghadiri takziyah. “Amalan ini sederhana, namun begitu tinggi nilainya di mata Allah, hingga membuat para malaikat merasa takjub akan manusia,” jelasnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan suasana penuh haru dan semangat. Jamaah yang hadir tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka. Beberapa jamaah menyampaikan bahwa kajian rutin MATA AIR ini menjadi momen yang dinantikan setiap bulannya, bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena menjadi wadah silaturahmi dan pengingat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah.

“Alhamdulillah melalui kajian ini, kami mengingatkan kembali betapa istimewanya manusia di mata Allah. Semoga kami bisa terus istiqamah dalam beribadah dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama,” ujar salah satu jamaah.

Majelis Taklim At-Thohir (MATA AIR) di Dusun Pluntu ini rutin mengadakan kajian sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran beragama di kalangan masyarakat serta mempererat ikatan antarwarga. Kajian rutin ini diharapkan dapat menjadi pilar dakwah yang memberi manfaat bagi umat, baik secara spiritual maupun sosial.

Diharapkan pula, melalui kajian-kajian seperti ini, jamaah bisa terus termotivasi untuk menjalankan amalan-amalan yang disampaikan, seperti sholat berjamaah, kepedulian pada yang sakit, dan empati kepada mereka yang tengah berduka. Kajian ini akan terus dilanjutkan dengan tema-tema menarik lainnya, sehingga semangat para jamaah dalam menimba ilmu agama tetap terjaga.

Dengan keberlangsungan kegiatan semacam ini, MATA AIR berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang berakhlak mulia dan beriman teguh.

Acara kajian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Darmaji, mengiringi harapan bersama agar ilmu yang disampaikan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 28 Oktober 2024

"Senandung Kebersamaan di Beranda Kenangan"


Pada hari Senin, tanggal 28 Oktober 2024, mentari pagi menyapa lembut beranda KUA Margomulyo, tempat yang penuh kenangan bagi para penyuluh agama Islam. Di bawah rindangnya pepohonan, suasana syahdu terasa terasa. Angin berhembus pelan membawa kesejukan, seakan turut menyaksikan kisah-kisah yang terjalin di antara mereka.

Setelah menyelesaikan tugas pokok dan fungsi masing-masing, para penyuluh berkumpul, duduk bersama di beranda itu. Ada senyum di wajah-wajah mereka, saling berbagi cerita—tentang suka duka, tentang perjalanan panjang dalam menjalani tugas mulia. Mereka menyelipkan tawa di antara keluh, menyambut tiap kisah dengan perhatian dan hangatnya persahabatan.

Di antara mereka ada yang mengisahkan perjuangan mendampingi masyarakat, ada pula yang berbagi suka saat berhasil keluarga menginspirasi-keluarga untuk membina rumah tangga yang sakinah. Meski ada lelah yang tak kasat mata, namun hati mereka terpaut pada satu tujuan—melanjutkan dakwah dan menjadi lentera bagi umat.

Di beranda itu, mereka saling memperkuat. Menyadari bahwa tugas ini bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang harus dijaga. Suka dan duka yang alami mereka telah menjadi untaian kenangan berharga, mempererat ikatan kebersamaan. Tak jarang, melihat mereka melayang ke daratan, membayangkan hari esok yang penuh harapan—dan mereka tahu, di setiap langkah yang ditempuh, mereka tak pernah benar-benar sendiri.

Foto ini menyimpan kehangatan yang tak terungkap, seperti untaian cerita yang tertinggal dalam setiap karya dan senyuman mereka. Duduk bersama di beranda KUA Margomulyo, para penyuluh agama Islam ini terlihat menyatu dalam kebersamaan yang menguatkan. Ada tawa, cerita, dan mungkin harapan yang masih tersimpan di dalam hati mereka masing-masing. Setiap wajah tampak penuh semangat, meski lelah dari tugas yang telah dilalui.

Di sela obrolan ringan dan candaan hangat, mereka saling berbagi kisah perjuangan, seolah beranda ini menjadi saksi kebersamaan yang tak ternilai. Inilah momen di mana suka dan duka mereka bercampur menjadi satu, menyatu dalam harmoni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada dalam perjalanan yang sama. Di tempat sederhana ini, mereka menemukan kekuatan, semangat, dan ikatan yang terus tumbuh.

Meski banyak cerita yang tak terutarakan, kehadiran mereka bersama adalah bahasa kebersamaan yang tak perlu kata.

Seiring angin berhembus lembut, waktu seakan melambat di beranda yang penuh kenangan ini. Setiap penyuluh seolah-olah memiliki cerita sendiri yang tersembunyi di balik senyum dan menyertakan penuh arti. Ada kisah tentang langkah-langkah yang terayun untuk membimbing umat, cerita tentang harapan yang dirajut dalam doa, dan perjuangan menghadapi tantangan yang tak selalu mudah.

Di sudut meja kayu yang sudah mulai tua, mereka saling menguatkan. Seorang penyuluh bercerita tentang keluarga yang membimbingnya menuju keharmonisan, sementara yang lain mengenang pertemuan dengan anak-anak muda yang kembali semangat menuntut ilmu agama. Cerita demi cerita mengalir, disambut anggukan dan senyuman, tanda mereka saling mendukung.

Dalam hening yang sesekali tercipta, ada makna mendalam yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Mereka bukan sekadar rekan kerja; mereka adalah keluarga dalam jalan dakwah, yang bersama-sama mengarungi arus kehidupan demi tugas yang mereka emban. Tangan mereka mungkin tak selalu terlihat bersatu, namun hati mereka terpaut erat, menyatu dalam visi dan misi yang sama.

Ketika sore mulai menetap, mentari pun perlahan tenggelam di balik pepohonan, meninggalkan cahaya lembut yang membias di wajah-wajah mereka. Satu demi satu pamit mereka, namun semangat mereka tetap tinggal di beranda itu, menjadi jejak kenangan yang akan terus melekat di hati.

Begitulah kisah mereka hari ini—sebuah kisah yang tak akan pernah selesai, karena kebersamaan dan semangat pengabdian mereka akan terus mengalir, hari demi hari.

Sore pun menjelang, mentari condong ke barat. Satu per satu penyuluh pamit, meninggalkan beranda KUA dengan senyum di wajah dan semangat di hati. Hari ini, di tempat penuh kenangan itu, mereka kembali mengukir cerita—kisah kebersamaan yang akan tetap abadi dalam hati.

Minggu, 27 Oktober 2024

"Muslimat NU Anak Ranting Jeruk Gelar Bimbingan dan Penyuluhan Keutamaan Ibadah Bersama Penyuluh KUA Margomulyo"


Margomulyo, Ahad, 27 Oktober 2024 — Muslimat NU Anak Ranting Jeruk mengadakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang berlangsung di Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Acara ini dihadiri oleh anggota Jamaah Muslimat NU dari Anak Ranting Jeruk, serta beberapa tokoh masyarakat setempat yang turut serta dalam memeriahkan kegiatan penuh manfaat ini.

Acara ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang keutamaan ibadah, khususnya bagi para muslimah di lingkungan tersebut. Sebagai penutup yang berkesan, hadir Kiayi Paniran, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Margomulyo, yang memberikan bimbingan dan penyuluhan tentang keutamaan ibadah dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pentingnya menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan dan memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Kiayi Paniran juga memberikan motivasi agar para jamaah semakin semangat menjalankan ibadah sehari-hari, baik yang bersifat wajib maupun sunnah, sebagai wujud cinta kepada Allah SWT.

Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan serta menumbuhkan semangat beribadah yang lebih mendalam bagi para jamaah, serta memperkuat tali persaudaraan dan kekompakan di antara Muslimat NU Anak Ranting Jeruk dan masyarakat Dusun Jeruk.

Dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta, kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini berlangsung penuh khidmat dan menghasilkan diskusi-diskusi mendalam terkait keutamaan ibadah, nilai-nilai sosial, serta kontribusi positif bagi lingkungan masyarakat. Kehadiran Kiayi Paniran sebagai penyuluh menambah kedalaman pemahaman para jamaah mengenai esensi ibadah sebagai pengikat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta dan peran sosial dalam mempererat ukhuwah islamiyah.

Di sela-sela ceramahnya, Kiayi Paniran juga menekankan pentingnya ibadah sebagai bentuk penghambaan yang tidak hanya berdimensi individual, tetapi juga memiliki dampak kolektif terhadap kesejahteraan sosial. Beliau menggarisbawahi bahwa seorang muslimah yang berkomitmen menjalankan ibadah dengan benar dapat menjadi inspirasi dan teladan dalam keluarga serta lingkungan sekitar. Kiayi Paniran juga mengajak jamaah untuk meningkatkan amalan harian, seperti shalat sunnah, dzikir, dan doa yang konsisten, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Kegiatan ini pun ditutup dengan doa bersama, berharap semoga Allah SWT memberikan berkah serta kekuatan untuk terus istiqamah dalam menjalankan ibadah. Para jamaah pulang dengan semangat baru untuk mengamalkan ilmu yang didapatkan, menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin, agar nilai-nilai keagamaan dapat terus mengakar dan memperkokoh kebersamaan di antara Muslimat NU Anak Ranting Jeruk dan masyarakat Dusun Jeruk.

Sabtu, 26 Oktober 2024

Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan di Ranting NU Kalangan Berlangsung Penuh Khidmat dan Inspirasi

 

Margomulyo, 26 Oktober 2024 – Kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Kalangan berlangsung pada Sabtu, 26 Oktober 2024, di rumah Bapak Darsuki, Dusun Bandung, Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo. Acara ini yang dihadiri oleh seluruh jajaran NU Ranting Kalangan, badan otonom, serta para tokoh masyarakat setempat, menandakan antusiasme besar terhadap upaya penguatan dakwah dan penyuluhan di kalangan warga NU.

Acara diawali dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Rodhiyan, Rais Syuriah NU Ranting Kalangan. Dalam suasana khusyuk, para jamaah melantunkan doa sebagai pembuka kegiatan, memohon keberkahan dan kelancaran acara.

Tuan rumah, Bapak Darsuki, menyampaikan Perayaannya dengan penuh rasa terima kasih. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah dan partisipasi aktif dari para tokoh yang ikut serta dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini.

Selanjutnya, Ketua NU Ranting Kalangan, Kiyai Parno, memberikan sambutan yang hangat dan apresiatif. Beliau mengapresiasi semangat semua pihak yang telah berikhtiar menyukseskan acara ini serta agenda dakwah lainnya di Desa Kalangan. Kiyai Parno juga menegaskan pentingnya kebersamaan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin di tengah masyarakat.

Acara puncak diisi dengan Mauidzoh Hasanah oleh Kiyai Badrun, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) KUA Margomulyo. Dalam ceramahnya, beliau mengajak para jamaah untuk terus meningkatkan rasa syukur atas limpahan nikmat Allah, termasuk nikmat berkhidmat di dalam jamiyah NU. “Kita harus bersyukur, karena berada di tengah-tengah perjuangan ini adalah kenikmatan luar biasa yang patut kita jaga dan kembangkan,” ucap beliau.

Kiyai Badrun juga memaparkan capaian program Penyuluh Agama Islam di wilayah Margomulyo, yang tak lepas dari tantangan serta variasi kondisi lapangan. “Tantangan dan rintangan yang menghadang justru menjadi pelengkap yang menguatkan semangat kita untuk mencapai target,” tambah dengan penuh motivasi.

Menutup ceramahnya, beliau menyoroti pentingnya pemberdayaan wakaf dan penguatan ekonomi umat sebagai bagian dari perjuangan sosial-keagamaan yang harus terus didorong. Harapannya, melalui semangat kebersamaan ini, umat Islam di Desa Kalangan dapat lebih mandiri dan sejahtera.

Acara berlangsung lancar hingga akhir, dimulai dengan suasana hangat dan penuh harap untuk menginginkan agenda dakwah dan sosial NU di masa mendatang.

Para jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga tuntas. Momen bimbingan dan penyuluhan ini tidak hanya menjadi ajang penguatan iman dan ukhuwah, tetapi juga menjadi wadah refleksi bersama atas peran NU dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

Usai ceramah, para jamaah berkesempatan berdiskusi dengan Kiyai Badrun, yang memberikan kesempatan bagi warga untuk mengutarakan pandangan dan aspirasi mereka terkait peran keagamaan serta program-program yang relevan bagi masyarakat Desa Kalangan. Diskusi ini berlangsung hangat, mencerminkan semangat kolaborasi antara masyarakat dan NU sebagai garda depan penyuluhan agama di tingkat akar rumput.

Dalam sesi akhir acara, para jamaah dan tokoh masyarakat bersama-sama mengumandangkan doa, berharap agar segala upaya dan ikhtiar dakwah NU Ranting Kalangan selalu diberkahi dan diridai Allah SWT. Dengan penuh optimisme, acara diakhiri dengan tekad bersama untuk terus menguatkan program pemberdayaan umat dan meluaskan syiar Islam di Desa Kalangan, khususnya melalui berbagai langkah konkret yang berdampak positif bagi kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.

Semangat gotong-royong serta kebersamaan yang terpancar dalam kegiatan ini menjadi harapan bagi keberlanjutan misi dakwah NU. Kegiatan seperti ini diharapkan mampu menjadi energi baru bagi pengembangan NU di Kecamatan Margomulyo serta menjadi teladan yang inspiratif bagi ranting-ranting NU lainnya.