Tampilkan postingan dengan label RAKORD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAKORD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2024

"Mengukir Istiqomah, Merajut Semangat: RAKORD Penyuluh Agama Islam Margomulyo"

Huda Afrianto, S.Ag. Kepala KUA Kec. Margomulyo

Margomulyo, 7 Oktober 2024 – Kegiatan Rapat Koordinasi (RAKORD) bersama Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Margomulyo telah sukses dilaksanakan pada Senin pagi, bertempat di Aula KUA Margomulyo. Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai ini dipimpin langsung oleh Kepala KUA Margomulyo, Huda Afrianto, S.Ag., dengan diikuti oleh seluruh Penyuluh Agama Islam di wilayah tersebut.

RAKORD kali ini difokuskan pada beberapa poin penting, termasuk peningkatan kualifikasi bagi para penyuluh, penyelesaian laporan bulan September 2024, serta evaluasi kinerja yang telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir. Kepala KUA, Huda Afrianto, dalam Arahannya menyampaikan pentingnya profesionalisme dan dedikasi dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh agama, mengingat peran mereka sangat strategis dalam membina dan memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat.

“Para penyuluh agama merupakan ujung tombak dalam pembinaan umat. Oleh karena itu, kita harus selalu meningkatkan kualitas kinerja agar lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang menyejukkan,” ungkap Huda dalam pembukaannya.

Selain pembinaan, acara ini juga membahas penyelesaian laporan kerja bulan September 2024. Huda menekankan pentingnya akurasi dan ketepatan waktu dalam menyusun laporan kinerja. Laporan ini tidak hanya sebagai dokumen administrasi, tetapi juga cermin dari kegiatan nyata di lapangan.

Acara diakhiri dengan evaluasi kinerja para penyuluh agama selama beberapa bulan terakhir. Dalam sesi evaluasi ini, para penyuluh diberikan kesempatan untuk menyampaikan tantangan dan hambatan yang mereka hadapi dalam melaksanakan tugas, sekaligus mendiskusikan solusi bersama guna meningkatkan efektivitas dakwah dan pelatihan di tengah masyarakat.

Di samping itu, Huda, Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, juga berpesan agar para Penyuluh Agama Islam tetap bersemangat dan istiqomah dalam menjalankan tugas mereka, meskipun tantangan di lapangan sering kali tidak mudah. Menurutnya, tugas penyuluh agama bukan hanya sebatas menyampaikan materi dakwah, tetapi juga menjadi teladan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Oleh karena itu, semangat dan dedikasi yang tinggi sangat dibutuhkan.

“Kita harus senantiasa menjaga semangat dan istiqomah dalam setiap langkah kita. Jangan mudah menyerah meskipun ada rintangan, karena tugas kita adalah memberikan bimbingan dan teladan kepada masyarakat dalam beragama,” ujar Huda.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar para penyuluh selalu mematuhi aturan dan pedoman yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama. Hal ini penting untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai Abdi Negara yang melayani umat.

Huda berharap dengan semangat yang terus terjaga, para penyuluh dapat semakin memberikan dampak positif bagi masyarakat Margomulyo, serta terus meningkatkan kualitas diri agar mampu menjawab berbagai tantangan dakwah yang semakin kompleks di era modern ini.

Dengan adanya RAKORD ini, diharapkan para penyuluh agama Islam di wilayah Margomulyo dapat semakin solid dan berkomitmen dalam menjalankan tugas mereka untuk membina umat menuju kehidupan yang lebih baik dan harmonis.


Kontributor: Nita
Editor: Tim FKPAIMedia

Senin, 23 September 2024

Rutinitas Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Margomulyo: Refleksi dan Kebersamaan di Tengah Tugas

Pagi itu, seperti biasa, satu per satu kami mulai berdatangan ke kantor KUA Kecamatan Margomulyo. Pak Eko dan Bu Lis yang datang lebih dulu, seolah menyambut hangat suasana hari itu. Beberapa saat kemudian, Pak Rosidi tiba, diikuti oleh Pak Badrun, lalu Pak Udin. Kami yang berkumpul hari ini adalah cermin dari kodrat alam, menjalani kehidupan yang selalu bergerak, sementara beberapa rekan lainnya masih dalam perjalanan kehidupan mereka masing-masing.

Setiap hari Senin, seperti hari ini, 23 September 2024, menjadi rutinitas kami untuk menggelar evaluasi mingguan. Dalam pertemuan tersebut, kami saling berbagi hasil kerja, mengevaluasi kinerja selama sepekan, dan menyiapkan laporan akhir bulan yang sudah mulai mendekati tenggat. Diskusi berjalan serius, tapi juga penuh dengan semangat kolektif untuk saling mendukung satu sama lain, memastikan semua tugas dakwah dan bimbingan terlaksana dengan baik.

Setelah selesai, suasana formal segera mencair saat kami melangkah ke beranda kantor. Di sana, seperti biasa, kami duduk bercengkerama, membahas hal-hal yang terlewat atau belum sempat disampaikan dalam rapat. Obrolan ringan mulai mengalir, sesekali diselingi tawa kecil saat kami berbagi cerita seputar pernak-pernik kehidupan di lapangan dakwah. Ada saja yang menggelitik, dari tantangan menyampaikan pesan agama kepada masyarakat hingga momen-momen lucu yang sering kali tak terduga.

Candaan dan tawa menjadi bumbu dalam kebersamaan kami, mewarnai diskusi yang mungkin lebih banyak dihabiskan dalam keseriusan saat rapat. Ada sebuah kekompakan tersirat di antara kami, seolah memahami bahwa tugas berdakwah bukan hanya soal materi, tapi juga soal hati yang tetap ringan dan jiwa yang selalu bersyukur di tengah kesibukan.

Hari itu, seperti hari-hari lainnya, menjadi bagian dari perjalanan kami sebagai penyuluh agama. Sebuah perjalanan yang tak hanya diwarnai tugas dan tanggung jawab, tetapi juga diisi dengan tawa, kebersamaan, dan canda ringan yang selalu menguatkan semangat kami.

Seusai Rakord, suasana kembali mencair. Kami, para penyuluh, larut dalam perbincangan santai sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Di sudut beranda, Pak Eko dan Pak Rosyidi tampak terlibat dalam percakapan yang cukup serius, namun tetap dengan raut wajah bersahabat. Mereka tengah membahas pasangan pengantin yang baru saja mengajukan proses pernikahan. Kebetulan, selain sebagai Penyuluh Agama Islam, keduanya juga memiliki tugas tambahan sebagai Petugas Pembantu Pencatat Nikah (P3N).

Pembicaraan mereka mengalir lancar, dimulai dari teknis administrasi hingga diskusi mengenai kesiapan mental dan spiritual calon pengantin. Sebagai P3N, Pak Eko dan Pak Rosyidi bukan hanya memeriksa kelengkapan berkas, tapi juga memastikan bahwa setiap pasangan yang akan menikah memahami makna dan tanggung jawab yang mereka emban.

"Kadang-kadang, calon pengantin masih belum sepenuhnya paham tentang pentingnya komunikasi dan kesabaran dalam rumah tangga," ujar Pak Eko dengan nada bijak. Pak Rosyidi mengangguk, menambahkan, "Iya, ini yang sering kita sampaikan dalam bimbingan pranikah. Pernikahan itu bukan hanya soal administrasi, tapi tentang menyatukan dua hati dan dua keluarga."

Obrolan mereka semakin mendalam, sesekali diselingi oleh candaan ringan tentang berbagai pengalaman unik selama mendampingi pasangan muda yang kadang masih canggung menjalani proses pernikahan.


Di sisi lain beranda, suasana tampak lebih serius saat Pak Eko dan Pak Badrun terlibat dalam obrolan mendalam. Meski terdengar santai, topik pembicaraan mereka adalah kegiatan dakwah yang baru saja dilaksanakan semalam (Ahad malam sabtu) di Ranting NU Meduri. Pak Eko, yang selain bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam juga menjabat sebagai Ketua Ranting NU Meduri, tengah melaporkan jalannya acara kepada Pak Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo.

“Kegiatan semalam berjalan lancar, Alhamdulillah,” ujar Pak Eko sambil tersenyum tipis, namun tetap terlihat serius. “Kami mengadakan pengajian rutin dengan tema tentang pentingnya menjaga ukhuwah dan memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat yang semakin beragam. Jamaah yang hadir cukup banyak, bahkan beberapa tokoh masyarakat ikut hadir, memberikan dukungan penuh.”

Pak Badrun mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk tanda setuju. Sebagai Ketua MWCNU, beliau memang selalu mendukung dan memperhatikan setiap kegiatan yang dilaksanakan di ranting-ranting NU di bawah naungannya. “Bagus sekali, Pak Eko. Ini penting untuk menjaga semangat jamaah, apalagi di tengah situasi saat ini. Jangan lupa terus pantau keberlanjutan program-program dakwah, supaya konsisten.”

Pak Eko melanjutkan laporannya, kali ini berbicara tentang beberapa kendala teknis yang sempat dihadapi, seperti kurangnya sarana pendukung di lokasi acara. Namun, ia juga menambahkan bahwa meski ada kendala, partisipasi jamaah sangat baik dan penuh antusias. “Kita memang masih butuh peningkatan fasilitas, tapi semangat jamaah luar biasa. Saya rasa, jika konsisten, ke depan akan semakin baik.”

Pak Badrun tersenyum lebar, menunjukkan dukungan penuh. “Tidak masalah, Pak. Kita pelan-pelan tingkatkan. Yang penting niat dan usaha kita untuk terus menggerakkan dakwah. Nanti soal fasilitas, insyaAllah, MWCNU akan bantu koordinasikan dengan pihak terkait agar ke depannya lebih optimal.”

Obrolan mereka kemudian berlanjut pada rencana-rencana ke depan, terutama dalam hal menggerakkan dakwah di tingkat ranting NU. Mereka membahas berbagai strategi untuk lebih melibatkan generasi muda, meningkatkan pendidikan agama, dan mengantisipasi tantangan sosial yang semakin kompleks di masyarakat.

Meski terlihat serius, percakapan ini diwarnai semangat kerja sama yang kuat. Sebagai penyuluh agama yang juga memegang peran penting di organisasi NU, Pak Eko dan Pak Badrun saling berbagi pengalaman dan pandangan untuk terus memperkuat dakwah di tingkat akar rumput. Obrolan ini tidak hanya soal laporan, tapi juga bentuk komitmen dan visi bersama untuk membangun umat yang lebih baik di Kecamatan Margomulyo.

Di tengah percakapan itu, sesekali terdengar canda tawa ringan, menandakan bahwa meskipun mereka membahas hal-hal serius, kebersamaan dan persahabatan tetap menjadi warna dalam interaksi mereka. Ini adalah cermin dari semangat para penyuluh agama—mengabdi dengan hati, berjuang tanpa pamrih, dan selalu menjaga keharmonisan dalam setiap langkah.


Setelah selesai berbincang ringan dengan Pak Eko, Pak Badrun terlihat duduk di kursi depan beranda KUA, sedikit menjauh dari keramaian. Pandangannya jauh menembus cakrawala, seakan ada beban berat yang tengah ia pikul, namun tetap terpancar ketenangan dari raut wajahnya. Dalam kesunyian sejenak itu, ada keteduhan yang terasa. Pak Badrun, dengan segala tanggung jawabnya sebagai Penyuluh Agama Islam dan Ketua MWCNU Margomulyo, tentu membawa banyak hal dalam pikirannya—mulai dari program dakwah hingga pembangunan organisasi yang ia pimpin.

Meskipun begitu, ia tetap terlihat cool dan santai. Sesekali, ia menarik napas dalam-dalam, seolah mengatur ritme pikiran yang bercampur dengan berbagai tanggung jawab yang terus berdatangan. Di balik ketenangannya, tersirat kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menghadapi segala tantangan. Ia paham bahwa tugas sebagai pemimpin tak hanya membutuhkan ketegasan, tetapi juga ketenangan dalam berpikir dan bertindak.

Di kejauhan, rekan-rekan penyuluh lainnya masih larut dalam percakapan ringan dan tawa. Namun, Pak Badrun tetap di sana, duduk dengan tenang, memantau dan merenung. Ada kalanya ia mengalihkan pandangan ke sekeliling, memperhatikan dinamika rekan-rekannya. Ia mungkin memikirkan langkah-langkah strategis untuk terus memperkuat peran NU di tengah masyarakat, atau mungkin merencanakan tindak lanjut dari evaluasi yang baru saja dilakukan.


Tak lama kemudian, Pak Rosidi mendekat sambil membawa absensi kehadiran. Dengan langkah tenang, ia menghampiri Pak Badrun yang masih duduk di kursi depan beranda KUA. Setelah menyapa singkat, Pak Rosidi segera membubuhkan tanda tangan di kolom absensi, seolah sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Namun, sambil menandatangani, percakapan serius kembali mengalir di antara mereka berdua, kali ini mengenai perkembangan dakwah di Kecamatan Margomulyo.

“Kita harus terus meningkatkan progres dakwah, terutama di desa-desa yang masih minim kehadiran penyuluh,” ucap Pak Rosidi sembari menatap absensi yang telah ditandatangani. Sebagai Rais MWCNU Margomulyo, Pak Rosidi memang memiliki perhatian khusus terhadap kualitas dakwah di wilayahnya.

Pak Badrun mengangguk pelan, sambil memandangi absen. “Benar, kita harus lebih fokus lagi. Beberapa tempat sudah berjalan baik, tapi di beberapa desa lain, masih butuh pendekatan yang lebih intens,” jawabnya. Pembahasan mereka kini merambah ke strategi-strategi dakwah yang lebih luas, tak hanya sebagai penyuluh agama di KUA Margomulyo, tetapi juga sebagai pemimpin ormas NU yang bertanggung jawab atas penguatan peran Nahdlatul Ulama di masyarakat.

Sebagai Ketua MWCNU, Pak Badrun memegang kendali penuh untuk memastikan program-program NU di wilayah Margomulyo berjalan sesuai rencana. Sementara itu, Pak Rosidi, sebagai Rais MWCNU, selalu memastikan jalur dakwah dan kegiatan keagamaan tetap sejalan dengan misi besar organisasi, memberikan bimbingan spiritual bagi masyarakat dan mengokohkan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah.

"Kegiatan NU di ranting-ranting mulai bergerak lebih aktif, tapi masih ada beberapa yang belum stabil," lanjut Pak Badrun, matanya memandang ke depan. "Kita perlu lebih sering turun langsung, mengawasi, dan mungkin memberikan motivasi lagi kepada pengurus-pengurus di tingkat bawah."

Pak Rosidi mengangguk setuju, lalu menambahkan, “Mungkin kita bisa adakan TURBA (Tausiyah Rutin Bersama) lebih sering, mempertemukan ranting-ranting untuk saling berbagi pengalaman. Selain itu, dakwah di masyarakat sekarang juga harus lebih menyesuaikan dengan isu-isu yang sedang berkembang, seperti online, narkoba, dan sebagainya.”

Percakapan terus berlanjut, keduanya membahas rencana strategis ke depan untuk memperkuat NU di Margomulyo, baik dari sisi dakwah keagamaan maupun peran sosial yang diemban organisasi. Mereka berdua sadar bahwa tantangan dakwah di era sekarang semakin kompleks, membutuhkan kerja sama yang solid antara penyuluh agama dan pemimpin ormas Islam seperti NU.

Meskipun perbincangan terlihat serius, ada rasa saling percaya dan dukungan di antara mereka. Baik Pak Badrun maupun Pak Rosidi telah lama menjadi tandem dalam memimpin NU di Margomulyo, memahami peran masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Di antara hiruk pikuk tugas yang menumpuk, mereka tetap tenang dan berfokus pada misi besar—mengabdikan diri kepada umat, menjaga tradisi, dan memperkuat dakwah Islam di tengah perubahan zaman.

Dengan senyum kecil, Pak Rosidi menepuk bahu Pak Badrun, “InsyaAllah, kita bisa jalani ini semua dengan baik. Asalkan niat kita lurus dan langkah kita konsisten, saya yakin NU Margomulyo akan semakin kuat.”

Pak Badrun mengangguk mantap, "Betul, kita jalani dengan niat ibadah dan tanggung jawab bersama. Semoga Allah mudahkan."

Rabu, 18 September 2024

"Jejak Dakwah di Beranda KUA: Sebuah Simfoni Kebersamaan"


Pagi ini, matahari masih lembut menyapa bumi saat kami, para Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Margomulyo, duduk santai di beranda KUA. Hari ini, Rabu, 18 September 2024, seakan alam ikut berbahagia menyaksikan kami yang bercengkerama, membagi kisah, dan menyulam kenangan. 


Ada tawa yang terselip di antara cerita-cerita kami. Suka duka berdakwah menjadi tema yang menghangatkan obrolan. Masing-masing dari kami berbagi, tak hanya tentang hikmah yang kami sampaikan kepada jamaah, tetapi juga tentang tantangan tak terduga yang kerap mewarnai perjalanan dakwah kami. Seperti saat salah satu dari kami harus menepi di tengah hutan, ban motor bocor, tanpa ada tanda kehidupan di sekitar. Dalam sunyi dan hening, kami hanya bisa bersandar pada mukjizat Ilahi, dan alhamdulillah, bantuan datang tak terduga, seolah dikirim langsung dari langit.


Lalu, ada kisah mikrofon yang tiba-tiba konslet saat ceramah, menghantarkan sengatan kecil pada bibir saat berbicara. Alih-alih marah, kami hanya tertawa mengenang momen-momen kecil yang mendewasakan. Setiap pengalaman itu seakan menjadi cermin, mengingatkan kami bahwa dalam setiap langkah dakwah, ada sentuhan rahmat yang tak terhitung, bahkan di tengah kesulitan.


Canda klasik semacam itu tak pernah usang bagi kami. Meski sederhana, kisah-kisah itu menguatkan ikatan kami sebagai saudara sepenyuluh. Di beranda KUA ini, obrolan kami bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang kehidupan—tentang perjalanan dakwah yang tak hanya mengubah orang lain, tapi juga diri kami sendiri.


Di beranda KUA yang tenang ini, waktu seakan berhenti sejenak, membiarkan kami larut dalam cerita-cerita yang terjalin. Langit yang cerah dan angin yang lembut menyapa, menjadi saksi atas tawa dan kenangan yang kami bagikan. Setiap kisah terasa begitu dalam, seolah-olah melukis jejak-jejak dakwah yang penuh makna.

"Masih ingat saat ban bocor itu?" salah satu dari kami membuka percakapan. Semua tersenyum, mengenang perjalanan di tengah hutan yang sunyi, tanpa sinyal, tanpa petunjuk. Dalam gelap malam, hanya doa yang bisa kami panjatkan. Hingga tiba-tiba, seberkas cahaya muncul dari kejauhan, seorang bapak dengan lampu senter datang menawarkan bantuan. Kami semua tahu, itu bukan sekadar kebetulan, tapi bukti bahwa pertolongan Allah datang tepat pada saatnya.

Lalu cerita lain muncul, tentang mikrofon yang menyengat bibir saat ceramah. Tawa kecil mengiringi kenangan itu. Siapa sangka, di balik momen itu, tersimpan hikmah besar. Bagaimana tidak? Saat bibir tersentak oleh sengatan, ceramah tak berhenti, justru semakin khusyuk. Seolah Allah menguji kesabaran kami, dan kami, dengan segala keterbatasan, tetap bertahan menyampaikan pesan-Nya.

Dakwah kami mungkin sederhana di mata dunia, tapi bagi kami, setiap langkah adalah perjalanan spiritual yang mendalam. Di antara jalan yang kadang terjal, ada ketenangan yang hanya bisa ditemukan saat kami menyatu dengan tugas mulia ini. Setiap perjalanan, setiap kesulitan, dan bahkan setiap tawa yang kami bagi di beranda KUA ini, adalah anugerah tak ternilai.

Kami paham, menjadi seorang penyuluh bukan hanya soal menyampaikan nasihat, tetapi juga tentang menjalani hidup dengan penuh makna. Di balik canda dan tawa, ada rasa syukur yang mendalam—syukur karena diberi kesempatan untuk terus berjalan di jalan ini, syukur karena setiap hari kami belajar, tak hanya mengajarkan.

Langit di atas kami mulai beranjak senja, warna jingga menyelimuti cakrawala. Suasana syahdu menyusup ke dalam percakapan kami, membawa rasa hangat di hati. Di tengah kebersamaan ini, kami tahu, setiap kisah yang kami ceritakan adalah benang-benang yang mengikat hati kami. Seperti perjalanan dakwah yang terus berlanjut, begitu pula persaudaraan kami, semakin erat dengan setiap cerita, setiap langkah.

Senin, 16 September 2024

Rapat Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Margomulyo: Langkah Sinergis Menuju Desa Binaan


Margomulyo - Selasa, 1 Desember 2020, aula KUA Kecamatan Margomulyo menjadi saksi pertemuan penting bagi para Penyuluh Agama Islam (PAI) yang tergabung dalam Rapat Evaluasi Kinerja (EVKIN). Dimulai pada pukul 09.00 hingga 11.45 WIB, rapat ini bertujuan untuk mengevaluasi dan memperkuat sinergi kinerja para penyuluh dalam melaksanakan tugas di tengah masyarakat.

Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, Achmad Maqin, S.Fil.I., membuka rapat dengan sambutan hangat dan apresiasi yang mendalam. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan betapa besar peran para penyuluh dalam menjaga kerukunan dan ketenteraman di masyarakat. "Saya sangat mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam di Kecamatan Margomulyo. Setiap program yang dilaksanakan memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat," ujar beliau dengan penuh semangat.

Selanjutnya, sesi pembinaan disampaikan oleh Ummi Robitoh, S.Ag., yang lebih akrab disapa "Bunda Ummi" oleh para penyuluh. Dalam kesempatan tersebut, Bunda Ummi memberikan bimbingan teknis seputar kegiatan penyuluhan dan mengevaluasi beberapa program yang telah dijalankan. Dengan gaya tutur yang penuh kehangatan, beliau menyampaikan pentingnya peningkatan kualitas penyuluhan, serta bagaimana para penyuluh dapat lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi-materi dakwah kepada masyarakat. "Kita harus terus bergerak maju, memastikan pesan-pesan agama yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas," tegas Bunda Ummi.

Acara kemudian ditutup dengan penyampaian Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh Lamiran, S.Pd.I., selaku Ketua Koordinator Penyuluh Agama Islam Kecamatan Margomulyo. Dalam penutupan tersebut, beliau mengumumkan bahwa program rolling perempat bulanan yang sebelumnya diterapkan akan diganti dengan program baru bernama "Desa Binaan." Program ini menetapkan Desa Geneng sebagai desa percontohan untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan intensif. "Dengan adanya Desa Binaan, kita berharap bisa lebih fokus dan mendalam dalam mendampingi masyarakat, sehingga penyuluhan yang dilakukan lebih terarah dan berkelanjutan," ujar Lamiran mengakhiri rapat.


Rapat EVKIN ini menjadi momen refleksi dan perencanaan yang matang bagi para Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Margomulyo, dengan harapan setiap langkah yang diambil ke depan semakin membawa manfaat yang nyata bagi masyarakat luas.

Rapat tersebut tak hanya menjadi ajang evaluasi, namun juga ruang dialog yang penuh kehangatan antara para penyuluh dan pimpinan KUA. Diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, serta berbagi pengalaman dalam menghadapi dinamika sosial keagamaan di wilayah Kecamatan Margomulyo, membuat suasana rapat semakin produktif. Para penyuluh dengan antusias menyampaikan pandangan mereka, terutama dalam menghadapi isu-isu kontemporer seperti radikalisme, penyalahgunaan narkoba, dan Pernikahan di usia Dini.

Program "Desa Binaan" yang disepakati dalam rapat ini menjadi angin segar bagi para penyuluh. Dengan fokus di Desa Geneng, para penyuluh diharapkan bisa lebih mendalam dalam memberikan bimbingan, mulai dari aspek keagamaan hingga sosial kemasyarakatan. Pendekatan yang lebih intensif dan sistematis diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala KUA, Achad Maqin, menyampaikan harapannya agar para penyuluh dapat terus meningkatkan kompetensi dan kreativitas dalam menjalankan tugasnya. "Tugas kita sebagai penyuluh bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi juga harus mampu menjadi pelopor perubahan yang positif di masyarakat," ujar beliau dengan penuh optimisme.


Seiring berakhirnya rapat, suasana di aula KUA Kecamatan Margomulyo dipenuhi dengan semangat baru. Para penyuluh Agama Islam saling berbagi tekad untuk menjalankan program "Desa Binaan" dengan sebaik-baiknya, memastikan setiap langkah yang diambil mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan beragama di Kecamatan Margomulyo. Dengan sinergi yang semakin kuat, mereka yakin bahwa tugas penyuluhan ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah panggilan untuk terus berbuat baik bagi umat dan agama.

Rapat EVKIN ini menjadi titik tolak yang penting dalam perjalanan dakwah dan penyuluhan di Kecamatan Margomulyo, membawa harapan baru dan semangat yang tak pernah padam untuk menciptakan masyarakat yang damai, rukun, dan penuh kebajikan.

Senin, 19 Agustus 2024

"Senandung Khidmah di Beranda KUA: Menjalin Canda, Menyulam Asa"


Senin pagi, 19 Agustus 2024, mentari bersinar hangat di atas KUA Kecamatan Margomulyo, seolah menyambut dengan penuh kehangatan bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Di beranda KUA yang teduh, kami bertiga, Saya, Pak Paniran, dan Pak Udin, duduk bersama, menikmati sejuknya pagi yang disertai canda tawa yang renyah. Ada keakraban yang terjalin di antara kami, seolah beranda ini menjadi saksi bisu kebersamaan yang telah lama terbangun.


Awalnya, hanya Saya dan Pak Paniran yang mengisi beranda itu. Kami bercakap-cakap ringan, membahas berbagai hal tentang kehidupan, hingga akhirnya percakapan kami beralih ke topik yang lebih serius—evaluasi kegiatan dakwah di majelis taklim yang menjadi tanggung jawab kami. Pembicaraan itu mengalir begitu saja, antara tawa dan evaluasi, seolah dua hal itu adalah teman lama yang tak bisa dipisahkan.


Tak lama kemudian, Pak Udin datang menyusul, menambah kehangatan perbincangan kami. Dengan senyum khasnya, ia langsung bergabung dalam diskusi kecil kami. Di beranda yang sederhana itu, kami bertiga berbagi cerita, mengingat kembali momen-momen penting dalam tugas dakwah kami. Setiap kata yang terucap, setiap tawa yang tercipta, membawa rasa syukur atas khidmah yang kami jalani sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Margomulyo.


Di dalam aula KUA, suasana berbeda terasa. Beberapa pasang pengantin tengah melangsungkan ijab kabul, disaksikan dengan khidmat oleh Pak Naib dan teman-teman P3N. Suara lembut lantunan akad pernikahan mengisi ruang, mengingatkan kami bahwa di tempat ini, tak hanya dakwah yang kami jalani, tetapi juga kehidupan baru yang dilahirkan dalam ikatan suci pernikahan. Kehidupan yang akan dijalani dengan doa-doa dan harapan baru, seiring dengan tugas kami yang terus berjalan.


Sebagai penyuluh yang ditugasi melayani bimbingan dan penyuluhan melalui majelis taklim, kami memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Setiap pekan, kami melakukan evaluasi kinerja, merencanakan progres kegiatan berikutnya, agar langkah-langkah dakwah kami tetap terarah dan berdampak positif bagi masyarakat. Hari ini, seperti setiap Senin lainnya, kami duduk bersama untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan selama seminggu terakhir, sekaligus merancang apa yang akan kami lakukan pada minggu yang akan datang.


Tidak ada beban di antara kami, hanya rasa bahagia dan bangga sebagai bagian dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Khidmah ini adalah panggilan hati, dan dalam setiap tawa yang kami bagikan di beranda KUA, tersimpan keyakinan bahwa apa yang kami lakukan adalah langkah kecil yang berarti besar bagi umat. Di tempat ini, beranda KUA Margomulyo, kami bukan hanya sekadar rekan kerja, tetapi juga saudara yang saling mendukung dalam menjalankan tugas mulia ini.


Kami tahu, perjalanan dakwah masih panjang, dan banyak yang harus dipersiapkan. Namun, dengan kebersamaan ini, kami yakin bahwa setiap tantangan bisa dihadapi, setiap hambatan bisa dilewati. Beranda ini akan terus menjadi saksi, bagaimana kami, para penyuluh, terus berkhidmah dengan penuh dedikasi, mengabdikan diri demi kemaslahatan umat dan bangsa. Di sini, di bawah langit Margomulyo, kami akan terus melangkah, menebarkan cahaya kebaikan yang tak pernah padam.


Ketika jarum jam di dinding KUA Margomulyo mulai bergerak mendekati siang, suasana di beranda tetap hidup. Percakapan kami mengalir dari satu topik ke topik lain, mulai dari keberhasilan dakwah di majelis taklim hingga tantangan yang kami hadapi di lapangan. Setiap cerita membawa warna tersendiri, menciptakan mozaik kebersamaan yang semakin erat.


Di sela-sela perbincangan, sesekali kami menoleh ke dalam aula, tempat prosesi ijab kabul berlangsung. Melihat wajah-wajah bahagia pasangan pengantin yang baru saja mengucap janji suci, kami tersenyum penuh haru. Betapa indahnya momen tersebut, momen yang mengingatkan kami akan pentingnya peran agama dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik.


Waktu berlalu, dan tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Matahari siang mulai terasa terik, namun semangat kami tetap menyala. Kami mengakhiri pertemuan dengan doa pengharapan, memohon kepada Allah SWT agar setiap langkah dakwah kami selalu diberkahi dan diberikan kemudahan.


Saat kami beranjak dari beranda KUA Margomulyo, ada perasaan yang hangat di dalam hati. Kebersamaan yang terjalin di tempat sederhana ini memberikan energi baru bagi kami untuk terus berkhidmah. Kami tahu, tantangan di depan tidaklah mudah, namun dengan kebersamaan dan semangat yang terus kami jaga, insya Allah, setiap langkah yang kami ambil akan membawa kebaikan bagi umat.


Beranda KUA Margomulyo hari itu bukan hanya sekadar tempat untuk duduk dan bercengkerama, tetapi telah menjadi ruang yang penuh makna. Di sini, kami menemukan kekuatan dalam kebersamaan, menanamkan tekad untuk terus melangkah dengan penuh keyakinan, mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara. Kami, para penyuluh agama, akan terus menjaga amanah ini, menebarkan kebaikan dan kedamaian di setiap sudut Kecamatan Margomulyo, selamanya.


FKPAIMedian

Senin, 12 Agustus 2024

"Di Beranda Pagi: Menyulam Tawa dalam Kebersamaan"


Pagi itu, sinar mentari perlahan merangkak naik, memeluk hangat setiap sudut beranda KUA Kecamatan Margomulyo. Hari Senin, 12 Agustus 2024, menjadi saksi kebersamaan kami, para Penyuluh Agama Islam, yang merajut ukhuwah dan memperkuat tekad dalam menjalankan tugas mulia ini.


Jam dinding menunjukkan pukul 09.00 ketika kami satu per satu mulai tiba di beranda KUA. Suasana yang sebelumnya hening berubah menjadi riuh oleh canda dan tawa yang menggema. Di bawah langit biru yang cerah, kami duduk bersantai, menyambut pagi dengan secangkir kopi hangat di tangan. Di tempat sederhana ini, beranda KUA, kehangatan persahabatan menyelimuti kami seperti selimut nyaman di pagi yang sedikit sejuk.


Obrolan ringan tentang kehidupan sehari-hari menjadi pembuka, seolah menjadi jembatan yang menghubungkan hati-hati yang penuh semangat. Setiap kata yang terucap, setiap tawa yang pecah, semuanya mengalir tanpa hambatan, menciptakan aliran komunikasi yang begitu alami. Dari sana, kami mulai memasuki percakapan yang lebih mendalam, membicarakan tugas-tugas penyuluhan yang menanti di depan.


Dalam suasana santai ini, kami menyadari betapa pentingnya kebersamaan. Kebersamaan bukan hanya sekadar duduk bersama, tetapi juga menyatukan visi dan misi dalam menjalankan tugas sebagai Penyuluh Agama Islam. Di antara seruputan kopi dan hembusan angin lembut, kami saling berbagi pengalaman dan strategi, mencari cara terbaik untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.


Waktu terus berjalan, dan jam menunjukkan pukul 12.30. Pertemuan ini bukan sekadar rakord biasa, tetapi sebuah momen berharga yang memperkuat ikatan di antara kami. Di beranda ini, kami tidak hanya bersantai, tetapi juga membangun fondasi kebersamaan yang kokoh, seperti batu bata yang saling menguatkan satu sama lain.


Dan ketika pertemuan ini usai, kami membawa pulang semangat baru, siap menghadapi tantangan di hari-hari mendatang. Di bawah langit Margomulyo yang semakin terik, kami melangkah pergi dengan senyum yang menghiasi wajah, membawa serta kehangatan kebersamaan yang telah terjalin erat di beranda KUA.

 

Di tengah suasana santai di beranda KUA, canda tawa menjadi obat mujarab yang menyembuhkan segala keluh dan resah. Setiap celoteh penuh humor dan guyonan ringan memoles kerut-kerut di dahi kami yang mungkin tersembunyi di balik tugas-tugas berat. Dalam canda tawa, kami menemukan cara untuk meredakan ketegangan, menghilangkan kelelahan, dan menyegarkan kembali semangat yang sempat meredup.


Canda guarau yang disampaikan dengan penuh keceriaan seakan menari-nari di udara pagi itu. Seolah setiap tawa yang pecah, setiap senyum yang merekah, adalah vitamin penambah energi yang tidak ternilai. Humor menjadi jembatan yang menghubungkan kami, menjembatani jarak antara tugas yang menumpuk dan kenyataan yang kadang membebani. Dalam kebersamaan ini, setiap guyonan tidak hanya sekadar lelucon, tetapi sebuah ikatan yang mempererat hubungan antar sesama Penyuluh.


Ketika salah satu dari kami mulai melontarkan cerita konyol tentang pengalaman sehari-hari, yang lain segera ikut serta dengan cerita serupa atau tanggapan lucu. Keluhan tentang jadwal yang padat atau tantangan dalam tugas-tugas penyuluhan, seketika menjadi bahan tawa bersama. Sejenak, semua kesulitan dan kepenatan terasa menghilang, digantikan oleh perasaan hangat dan nyaman yang hanya bisa diberikan oleh kebersamaan.


Momen-momen seperti ini menunjukkan kekuatan luar biasa dari canda tawa. Di dalamnya, kami tidak hanya berbagi keluh kesah, tetapi juga menyembuhkan luka-luka batin yang mungkin tak terlihat oleh mata. Dengan setiap guyonan yang dilontarkan, kami memperkuat ikatan batin kami, membangun fondasi solid untuk menghadapi tantangan yang akan datang.


Ketika hari beranjak siang dan pertemuan ini harus berakhir, kami meninggalkan beranda dengan hati yang lebih ringan dan senyum yang lebih lebar. Canda guarau pagi itu telah memoles segala keluh resah kami, dan meninggalkan bekas kehangatan yang akan terus kami bawa dalam setiap langkah kami sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Margomulyo.


FKPAIMedia

Kamis, 11 Juli 2024

Menghiasi Gelombang Badai Kehidupan dengan canda dan senyuman


Di bulan Muharram yang penuh berkah ini, para penyuluh agama Islam dari KUA Margomulyo berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka bersatu dalam satu tujuan: memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang mereka layani. 

Baca Juga: Majelis Taklim Manja'al Ulum Gelar Penyuluhan "Stop Judi Online" untuk Keselamatan Masyarakat

Ketika mereka melangkahkan kaki, mengunjungi rumah demi rumah, mendengarkan keluh kesah, dan memberikan bimbingan rohani, terasa ada sesuatu yang mengikat mereka. Bukan hanya sekedar tugas, melainkan panggilan nurani yang mengalir dalam darah. Mereka berbagi suka dan duka, menguatkan satu sama lain dalam mengemban amanah.


Meski tidak terikat oleh hubungan darah, para penyuluh agama ini saling memahami, mengayomi, dan menjaga satu sama lain. Mereka bagaikan saudara yang lahir dari rahim yang sama, merasakan denyut nadi yang seirama. Perbedaan latar belakang hanyalah hiasan indah yang memperkaya perjalanan mereka.

Baca Juga: Judi Online Merusak Mental Generasi Bangsa: Bimbingan dan Penyuluhan di Jama'ah MT Al-Huda

Ketika salah seorang dari mereka menghadapi cobaan, entah karena sakit, duka, atau masalah lainnya, semuanya merasakan hal yang sama. Rasa pedih, khawatir, dan keinginan untuk membantu mengalir begitu kental. Mereka tahu, bahwa suka atau duka adalah milik bersama.

Baca Juga: Sinergi dalam Menangkal Bahaya Sosial dan Menjaga Kerukunan

Motivasi para penyuluh agama ini bukanlah semata-mata untuk mencari kekayaan atau kemewahan duniawi. Mereka paham, bahwa apa yang mereka lakukan adalah panggilan jiwa, sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Maha Kuasa. Kebersamaan mereka dilandasi oleh rasa tulus, ikhlas, dan pengabdian yang tulus.

Baca Juga: Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam Bertema "Stop Judi Online" Sukses Digelar di Musholla Baitul Makmur

Setiap suka dan duka, setiap langkah dan perjuangan, setiap harapan dan doa, semuanya melebur menjadi satu. Tidak ada batas-batas yang memisahkan, hanya satu detak jantung yang menyatu. Mereka paham, bahwa apa yang mereka rasakan adalah cerminan dari apa yang dirasakan oleh masyarakat yang mereka layani. Karena, sesungguhnya, rasa kami adalah rasa kita.

Meski terkadang dihadapkan pada tantangan dan ombak kehidupan yang ganas, para penyuluh agama ini tak pernah patah semangat. Mereka bagai kapten kapal yang teguh memegang kemudi, membawa perahu kehidupan masyarakat melewati setiap badai dan gejolak.

Baca Juga: Kegiatan Penyuluhan Agama Islam "Stop Judi Online" di MWCNU Margomulyo

Ketika masyarakat diselimuti keraguan, kebimbangan, atau kesedihan, kehadiran mereka bagai lentera yang menerangi jalan. Dengan sabar dan penuh kasih, mereka membimbing, menguatkan, dan memberikan pencerahan. Setiap nasihat dan doa yang mereka panjatkan, bagaikan bintang-bintang yang menerangi malam.

Baca Juga: Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam: Peran NU dalam Menanggulangi Dampak Judi Online

Tak jarang, mereka dihadapkan pada situasi di mana masyarakat terpecah-pecah, terbelah oleh perbedaan pandangan atau kepentingan. Namun, dengan bijaksana dan penuh pengertian, mereka menjadi perekat yang menyatukan kembali hati-hati yang retak. Mereka membuktikan bahwa kebersamaan adalah kunci menuju kedamaian.


Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan, para penyuluh agama ini menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat. Mereka tidak hanya menyerukan kebaikan, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan mereka menjadi inspirasi bagi semua orang.

Baca Juga: Kegiatan Penyuluhan Bahaya Judi Online oleh Ketua FKPAI KUA Kecamatan Margomulyo

Meskipun tak jarang mereka dihadapkan pada hambatan dan tantangan, namun mereka tak pernah menyerah. Setiap tetes keringat, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap langkah yang ditempuh, berbuah manis dalam wujud perubahan positif di tengah masyarakat. Melihat kemajuan dan kesejahteraan umat, adalah hadiah terbesar bagi mereka.


#Harmoni

#Kisah

Senin, 25 Maret 2024

"KUA Ngraho dan Margomulyo Menggelar Tarawih Bersama di Masjid Al-Ikhlas: Menggali Uswah Sahabat Nabi dalam Kesabaran Menjalani Ajaran Islam"


Bojonegoro - Senin, 25 Maret 2024 Kegiatan Tarawih Bersama di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Kabupaten Bojonegoro yang Dilaksanakan oleh KUA Kecamatan Ngraho dan Margomulyo pada Hari Senin, 25 Maret 2024, Jam 19.00-Selesai


Malam ini, Masjid Al-Ikhlas Kemenag Kabupaten Bojonegoro menjadi saksi kegiatan traweh bersama yang diadakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ngraho dan Margomulyo. Bertindak sebagai imam dan penceramah kultum pada acara ini adalah Bapak KH Agus Wiyono, Penyuluh Fungsional KUA Margomulyo.


Acara yang dihadiri oleh kepala KUA Margomulyo dan Ngraho, penyuluh, serta jamaah setempat ini berlangsung mulai pukul 19.00 hingga selesai. Dalam ceramahnya yang penuh makna, Bapak Agus Wiyono menyampaikan berbagai hal, terutama mengenai uswah para sahabat Nabi dalam bersabar menjalani perintah agama Islam.


Dengan penuh keahlian dan kebijaksanaannya, Bapak Agus Wiyono mengulas secara mendalam mengenai pentingnya kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian hidup sesuai dengan ajaran agama Islam. Ia mengingatkan jamaah akan keutamaan dan manfaat bersabar dalam menggapai kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.


Tak hanya itu, Bapak Agus Wiyono juga mengajak jamaah untuk senantiasa mengambil teladan dari perilaku mulia sahabat Nabi dalam menjalankan ajaran agama. Ia menjelaskan dengan jelas dan menggugah hati para hadirin mengenai kehidupan para sahabat yang penuh dengan kesabaran, ketekunan, dan dedikasi dalam beribadah.

Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah terus mendengarkan kultum yang disampaikan dengan gaya yang menarik. Semua informasi yang disampaikan oleh Bapak Agus Wiyono begitu mendalam dan memberikan inspirasi bagi jamaah yang hadir.


Kepala KUA Margomulyo dan Ngraho memberikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran Bapak Agus Wiyono sebagai penceramah pada kegiatan taraweh bersama ini. Mereka berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan untuk memperkuat kebersamaan dan memperdalam pemahaman agama di kalangan masyarakat.


Dengan suksesnya kegiatan traweh bersama di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Kabupaten Bojonegoro ini, diharapkan akan semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam di daerah ini. Semoga pesan-pesan yang disampaikan oleh Bapak Agus Wiyono dapat menginspirasi jamaah dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati.

Kontributor: Tofa
Editor: Tim Media FKPAI KUA Margomulyo

Selasa, 23 Januari 2024

"Harmoni Cahaya Senja: Kebersamaan Penyuluh Agama Islam KUA Margomulyo dengan Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto"

Pada suatu sore yang cerah, pada hari Selasa tanggal 23 Jam 2024, KUA Margomulyo dipenuhi oleh kehangatan dan kebersamaan yang memancar dari para penyuluh agama Islam yang berdedikasi dan penuh semangat. Di tengah-tengah mereka, berdiri sosok yang dihormati dan dijadikan panutan, Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto.
Suasana di KUA Margomulyo begitu tenang dan damai, seakan-akan alam semesta pun turut merayakan kebersamaan ini. Cahaya senja yang memancar dari langit menghiasi ruangan, menciptakan suasana yang magis. Para penyuluh agama berkumpul di sekitar meja bundar, saling berbincang dengan penuh keakraban dan kerendahan hati.

Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto hadir dengan raut wajah yang penuh kebijaksanaan dan kehangatan. Ia adalah figur yang menginspirasi dan menjadi teladan bagi semua penyuluh agama. Dalam kebersamaan ini, mereka berbagi pengalaman, pemikiran, serta ide-ide yang kreatif untuk meningkatkan pelayanan agama kepada masyarakat.

Sore itu, para penyuluh agama saling berbagi cerita tentang perjuangan mereka dalam menyebarkan nilai-nilai agama Islam di tengah kompleksitas kehidupan modern. Ada yang mengisahkan tentang keberhasilan mereka dalam mengajar anak-anak tentang kasih sayang dan pengertian, sementara yang lain berbagi cerita tentang upaya mereka dalam mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, mereka juga berdiskusi tentang tantangan dan hambatan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas mulia ini. Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto dengan bijak mendengarkan setiap suara, memberikan dorongan dan motivasi kepada setiap penyuluh agama untuk terus berjuang demi kebaikan umat Islam.

Tidak hanya itu, mereka juga membahas tentang inovasi dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk lebih efektif dalam melayani masyarakat. Mereka berpikir keras dan menggali potensi diri serta sumber daya yang ada, dengan tujuan yang sama: memberikan pelayanan agama yang berkualitas dan bermanfaat bagi seluruh umat Islam di Margomulyo.

Sementara senja semakin memudar dan malam semakin mendekat, kebersamaan di KUA Margomulyo semakin kuat. Para penyuluh agama dan Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto merasakan semangat dan energi positif yang membara di dalam diri mereka. Mereka sadar bahwa dengan saling mendukung dan bekerja sama, mereka dapat mengatasi segala rintangan yang mungkin muncul di masa depan.

Saat pertemuan usai, sinar bulan mulai muncul di langit, menyinari langkah-langkah mereka yang penuh harapan. Para penyuluh agama dan Pak Kepala KUA Bapak Huda Afrianto meninggalkan ruangan dengan perasaan syukur dan semangat yang membara. Mereka yakin bahwa kebersamaan ini telah memperkuat ikatan persaudaraan mereka, dan mereka siap melanjutkan perjuangan mereka untuk menerangi jalan umat Islam di Margomulyo.

Kebersamaan itu, pada sore hari Selasa yang indah, telah menciptakan ikatan yang tak tergoyahkan di antara mereka. Dalam setiap langkah mereka sebagai penyuluh agama, mereka akan selalu merujuk pada kebersamaan ini sebagai sumber inspirasi dan kekuatan. Dengan kebersamaan dan kesatuan, mereka siap melangkah ke masa depan, membawa sinar kebaikan, kasih sayang, dan pengharapan kepada umat Islam di Margomulyo.

Kamis, 29 Juli 2021

FKPAI KUA Margomulyo Gelar Doa Keselamatan Bangsa dari Wabah Covid19 Secara Virtual

www.fkpai.kuamargomulyo.com ||Kamis, 29 Juli 2021, FKPAI KUA Margomulyo menggelar acara Mujahadah Virtual, Pembacaan Tahlil sebagai Iktiar dan doa untuk keselamatan bangsa yang lagi berperang melawan wabah covid 19. Mujahadah dipimpin oleh Drs. H Agus Wiyono, M.Ag. PAIF KUA Margomulyo, Kamis, 29/07/2021

Dalam sambutannya, Ketua Pokjaluh Agus mengajak para Penyuluh Agama Islam dan kader NU yang hadir secara virtual untuk terus memanjatkan doa dalam setiap usaha dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Mujahadah ini untuk keselamatan bangsa karena Setiap usaha kita harus selalu diiringi dengan doa. Salah satunya dengan mujahadah ini,” kata Agus. (Lihat Vidio Selengkapnya)

Selain itu, Kiai Agus juga mengajak para penyuluh dan kader untuk mendoakan dari jarak jauh dan tidak harus silaturahim kepada para kiai.

“Mari kita panjatkan terus panjatkan doa untuk Penyuluh, para Kader NU, Umat Muslim, Bangsa Indonesia dan para Kiai kita tanpa harus bersilturahim dan berjabat tangan” ucapnya.

Sementara itu, sebelum mujahadah dimulai KH Agus Wiyono mengajak jamaah untuk mendo`akan para pejuang kesehatan dan korban covid 19.

“Bersama-sama kita mendoakan masyarakat yang berjuang di lapangan diringankan bebannya dan yang lagi sakit segera disehatkan kembali oleh Allah SWT dan badai Covid cepat berlalu.” ajak KH Asyari.

Mujahadah Virtual ini di Inisiasi Oleh Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) KUA Margomulyo, dan Ikuti Jajaran MWCNU, P.A.C. ANSOR/BANSER, P.A.C. IPNU/IPPNU Margomulyo, dan Mujahadah ini di agendkan  secara Virtual istiqomah Setiap Malam Jum'at dari rumah Masing-masing.


Kamis, 09 Juli 2020

Tausiyah Bunda Hajah Ummi Robithoh, Ketua Pokjaluh PAI KUA Kec. Margomulyo